TINDAK PIDANA
KEJAHATAN DUNIA MAYA
(Kajian Terhadap UU
Nomor 11 Tahun 2008 dan Fiqih Jinayah)
1.1. Latar Belakang Masalah
Kemajuan teknologi telah berkembang sedemikian pesatnya. Teknologi yang
merupakan produk dari modernitas telah mengalami lompatan yang luar biasa,
karena sedemikian pesatnya, pada gilirannya manusia, yang kreator teknologi itu
sendiri kebingungan mengendalikannya. Bahkan bisa dikatakan teknologi berbalik
arah mengendalikan manusia. Pada penghujung abad ke-20 ini telah ditemukan
beberapa karya dibidang teknologi informasi, diantaranya adalah internet.
Internet merupakan suatu alat yang memungkinkan hidup secara maya (virtual). Kehadiran internet ini telah
membawa dampak yang sangat luar biasa. Maka dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun
2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang dimaksud dengan Pasal 1 yaitu:
a.
Informasi Elektronik adalah satu atau sekumpulan data
elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta,
rancangan, foto, electronic data
interchange (EDI), surat elektronik (electronic
mail), telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda, angka,
kode akses, symbol, atau perforasi yang telah diolah yang memiliki arti atau
dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya.
b.
Transaksi Elektronik adalah perbuatan hukum yang
dilakukan dengan menggunakan Komputer, Jaringan komputer, dan/ atau Media
elektronik lainnya.
c.
Teknologi Informasi adalah suatu teknik untuk
mengumpulkan, menyiapkan menyimpan, memproses, mengumumkan, menganalisis, dan/
atau menyebarkan informasi.[1]
Dengan internet manusia dapat berbelanja, bersekolah dan beberapa
aktivitas lain layaknya kehidupan nyata. Sehingga pada gilirannya, kehadiran
internet memunculkan anggapan yang membagi kehidupan secara dikotomis menjadi real life (kehidupan nyata) dan virtual life (kehidupan maya). Awalnya,
teknologi (internet) sebetulnya merupakan sesuatu yang bersifat netral. Disini
diartikan bahwa teknologi itu bebas nilai. Teknologi tidak dapat dilekati sifat
baik dan jahat. Akan tetapi pada perkembangannya kehadiran teknologi
dipergunakan dari pihak-pihak yang berniat jahat untuk menyalahgunakannya.
Dalam perspektif ini, teknologi bisa dikatakan juga merupakan faktor kriminogen, faktor yang menyebabkan
timbulnya keinginan orang untuk berbuat jahat atau memudahkan terjadinya tindak
kejahatan. Pada dekade terakhir, telah muncul kejahatan dengan dimensi baru,
sebagai akibat dari penyalagunaan internet. Seperti halnya di dunia nyata,
internet ternyata mengundang banyak kriminal dalam beraksi, baik untuk mencari
keuntungan materi maupun untuk sekedar melampiaskan keisengan. Hal ini
memunculkan fenomena khas yang sering disebut dalam bahasa asing sebagai cyber crime (kejahatan di dunia maya).
Dari ungkapan ini tampak jelas mengisyaratkan bahwa kejahatan ini locus delicti-nya adalah dunia maya atau
cyber. Hal inilah yang membedakannya
dengan kejahatannya dengan kejahatan konvensional, yang locus delicti-nya adalah dunia nyata tempat kita berada. Munculnya
fenomena baru tersebut bagi sebagian orang telah mengubah perilakunya dalam
berinteraksi dengan manusia lainnya, yang terus menjalar kebagian lain dari
sisi kehidupan manusia, sehingga memunculkan adanya norma-norma baru,
nilai-nilai baru dan sebagainya.
Menurut Soerjono Soekanto, kemajuan dibidang teknologi itu telah
membentuk masyarakat informasi internasional, termasuk di Indonesia .[2]
Sehingga, satu sama lain menjadikan belahan dunia ini sempit dan berjarak
pendek. Berbisnis pun begitu mudahnya, seperti membalikkan telapak tangan saja.
Menurut Syamsul Muarif, teknologi telah mengubah pola kehidupan manusia
diberbagai bidang, sehingga secara langsung telah mempengaruhi munculnya
perbuatan hukum baru dimasyarakat.[3]
Bentuk-bentuk perbuatan hukum itu perlu mendapatkan penyesuaian, seperti
melakukan harmonisasi terhadap beberapa perundangan yang sudah ada, mengganti
yang tidak sesuai lagi, dan membentuk ketentuan hukum yang baru. Pembentukan
peraturan perundangan di era teknologi informasi ini harus dilihat dari
berbagai aspek. Misalnya dalam hal pengembangan dan pemanfaat rule of law dan internet, jurisdiksi dan
konflik hukum, pengakuan hukum terhadap dokumen serta tanda tangan elektronik,
perlindungan dari privasi konsumen, cyber
crime, pengaturan konten dan cara-cara penyelesaian sengketa domain.
Kemajuan teknologi yang ditandai dengan munculnya penemuan-penemuan baru
seperti internet, merupakan salah satu penyebab munculnya perubahan sosial,
disamping penyebab lainnya seperti bertambah atau berkurangnya penduduk,
pertentangan-pertentangan dalam masyarakat, terjadinya pemberontakan atau
revolusi di dalam tubuh masyarakat itu sendiri. Hal yang sama dikemukakan oleh
Satjipto Raharjo bahwa, dalam kehidupan manusia banyak alasan yang dapat
dikemukakan sebagai penyebab timbulnya suatu perubahan di dalam masyarakat,
tetapi perubahan dalam penerapan hasil-hasil teknologi modern dewasa ini banyak
disebut sebagai salah satu sebab bagi terjadinya perubahan sosial.[4]
Sistem teknologi dalam pelaksanaannya terpaksa berbenturan dengan
nilai-nilai moral. Dampak negatif yang ditimbulkan oleh produk teknologi
informasi, seperti internet menyebabkan proses perkembangan teknologi informasi
belum mencapai tingkat kemampanan. Jaringan internet pada mulanya hanya dapat
digunakan oleh lingkungan pendidikan (perguruan tinggi) dan Lembaga Penelitian.
Kemudian tahun 1995, internet baru dapat digunakan untuk publik. Beberapa tahun
kemudian, Tim Berners-Lee mengembangkan aplikasi world wide web (www) yang memudahkan orang untuk mengakses
informasi di internet. Setelah dibukanya internet untuk keperluan publik
semakin banyak muncul aplikasi-aplikasi bisnis di internet.
Aplikasi bisnis yang berbasiskan teknologi internet ini mulai menunjukkan
adanya aspek financial. Misalnya, internet digunakan sebagai sarana untuk
memesan/ reservasi tiket (pesawat terbang, kereta api), hotel, pembayaran
tagihan telepon, listrik, dan sebagainya. Hal ini mempermudah konsumen dalam
menjalankan aktivitas/ transaksi bisnisnya. Konsumen tidak perlu keluar rumah
dan antri untuk memperoleh layanan yang diinginkan karena dapat dilakukan di
dalam rumah, begitu pula tingkat keamanannya yang relatif lebih terjaga.
Mengantisipasi munculnya
kejahatan-kejahatan tersebut, dengan kata lain, undang-undang pidana kita mampu
menjerat pelaku tindak pidana yang dilakukan di dunia maya (cyber crime). Pakar hukum teknologi
informasi, Imam Syahputra menyatakan bahwa persoalan hukum teknologi internet
yang bermunculan belakangan ini telah mendesak pemerintah dan DPR untuk segera
merampungkan perundangannya.[5] Sekalipun perangkat hukum seperti Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) sudah dimiliki Indonesia , namun peraturan itu
masih belum cukup mampu menjerat pelaku tindak pidana di internet. Apalagi
dalam Pasal 1 KUHP disebutkan bahwa, yaitu:
“Tidak ada perbuatan pidana jika
sebelumnya tidak dinyatakan dalam suatu ketentuan Undang-Undang”.
Pasal itu menegaskan kalau pelaku kejahatan internet belum tentu dapat
dikenakan sanksi pidana. Selain berbenturan dengan Pasal 1 KUHP, kesulitan
untuk menjerat pelaku tindak pidana yang dilakukan di dunia maya berkaitan
dengan masalah pembuktian. Hukum positif mengharuskan adanya alat bukti, saksi,
petunjuk, keterangan ahli serta terdakwa dalam pembuktian. Sedangkan dalam hal
kejahatan terkait dengan teknologi informasi sulit dilakukan pembuktiannya.
Salah satu contoh kasus kejahatan dunia mayantara (cyber crime) yang dilakukan oleh seorang cracker adalah pencurian dan pengguna account internet milik orang lain.
Bentuk kesulitan yang umum dihadapi ISP (Internet Service Provider) adalah adanya account pelanggaran yang dicuri dan digunakan secara tidak sah.
Berbeda dengan pencurian yang dilakukan secara fisik, pencurian account internet cukup dilakukan dengan
menangkap user id dan password
sehingga, hanya informasi yang dicuri. Semetara itu orang yang account-nya dicuri tidak merasakan
hilangnya benda yang dicuri. Pencurian baru terasa efeknya jika informasi ini
digunakan oleh yang tidak berhak. Akibat dari pencurian ini, pelanggan dibebani
biaya penggunaan account tersebut.
Kasus ini banyak dihadapi oleh ISP di Indonesia namun yang pernah
diangkat adalah penggunaan account
curian oleh dua Warnet di Bandung. Pada dasarnya kejahatan yang ditimbulkan
dalam cyber crime itu sangat beragam
bentuknya, dan kejahatan ini bukan hanya terfokus dengan satu kejahatan saja
melainkan sangat beragam. Adapun ragam dari kejahatan tersebut yaitu penipuan
kartu kredit, penipuan bursa efek, penipuan perbankan, pornografi, pencemaran
nama baik, perjudian, perdagangan narkoba dan terorisme. Kejahatan-kejahatan
tersebut telah membuat pemerintah khususnya aparat penegak hukum terdorong
untuk memberikan pengaturan hukum terhadap cyber
crime, yaitu dengan memberlakukan cyber
law melalui pengesahan UU ITE 2008.[6] Undang-undang
inilah yang selama ini sangat ditunggu-tunggu oleh sebagian besar kalangan
masyarakat, karena dengan terwujudnya undang-undang tersebut dapat mengurangi
segala keresahan masyarakat yang banyak dirugikan oleh cyber crime.
Untuk mengatasi keamanan gangguan pendekatan teknologi sifatnya mutlak
dilakukan, sebab tanpa suatu pengamanan jaringan akan sangat mudah disusupi, di
intersepsi, atau di akses secara illegal dan tanpa hak. Melihat fakta hukum
sebagaimana yang ada pada saat ini, dampak perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang telah disalah gunakan sebagai sarana kejahatan ini menjadi
teramat penting untuk diantisipasi kebijakan hukumnya, sehingga cyber crime yang terjadi dapat dilakukan
penanggulangannya dengan hukum pidana, termasuk dalam hal ini adalah mengenai
sistem pembuktiannya. Dikatakan teramat penting karena dalam penegakan hukum
pidana dasar pembenaran seseorang dapat dikatakan bersalah atau tidak melakukan
tindak pidana, di samping perbuatannya dapat dipersalahkan atas kekuatan
Undang-Undang yang telah ada sebelumnya (Asas Legalitas), juga perbuatan mana
didukung oleh kekuatan bukti yang sah dan kepadanya dapat dipertanggung
jawabkan (unsur kesalahan). Pemikiran demikian telah sesuai dengan penerapan
asas legalitas dalam hukum pidana (KUHP) yakni, sebagaimana dirumuskan secara
tegas dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP “Nullum
Delictum Nulla Poena Sine Praevia Lege Poenali” atau dalam istilah dikenal,
“tiada pidana tanpa kesalahan”.[7]
Bertolak dari dasar pembenaran sebagaimana diuraikan di atas, bila
dikaitkan dengan cyber crime, maka
unsur membuktikan dengan kekuatan alat bukti yang sah dalam hukum acara pidana
merupakan masalah yang tidak kalah pentingnya untuk diantisipasi di samping
unsur kesalahan perbuatan pidana. Akhirnya, dengan melihat pentingnya persoalan
pembuktian dalam cyber crime, skripsi
ini hendak mendeskripsikan pembahasan dalam fokus masalah Hukum Pembuktian terhadap
cyber crime dalam Hukum Pidana Indonesia .
Oleh karena itu alasan-alasan di atas, pembuktian-pembuktian dalam cyber crime cukup sulit dilakukan,
mengingat, bahwa hukum di Indonesia yang mengatur masalah ini masih banyak
cacat hukum yang dapat dimanfaatkan oleh para pelaku cyber crime untuk lepas dari proses pemidanaan.[8]
Kegiatan cyber crime meskipun
bersifat virtual dapat dikategorikan sebagai tindakan dan perbuatan hukum yang
nyata. Secara yuridis dalam hal ruang cyber
crime sudah tidak ada tempatnya lagi untuk dikategorikan sesuatu dengan
ukuran dalam kualifikasi hukum konvensional untuk dijadikan obyek dan
perbuatan, sebab jika cara ini yang ditempuh akan terlalu banyak kesulitan dan
hal yang lolos dari jerat hukum. Kegiatan cyber
crime adalah kegiatan virtual yang berdampak sangat nyata, meskipun alat
buktinya bersifat elektronik.
Dengan demikian, subyek pelakunya harus dikualifikasikan pula sebagai
orang yang telah melakukan perbuatan hukum secara nyata. Penggunaan hukum
pidana dalam mengatur masyarakat (lewat peraturan perundang-undangan pidana)
pada hakekatnya merupakan bagian dari suatu langkah kebijakan (policy). Selanjutnya untuk menentukan
bagaimana suatu langkah usaha yang rasional dalam melakukan kebijakan tidak
dapat pula dipisahkan dari tujuan kebijakan pembangunan itu sendiri secara
integral. Dengan demikian dalam usaha untuk menentukan suatu kebijakan apapun (termasuk kebijakan hukum
pidana) selalu terkait dan tidak terlepaskan dari tujuan pembangunan nasional
itu sendiri yakni bagaimana mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat.[9]
Selain itu, perkembangan hukum di Indonesia terkesan lambat, karena
hukum hanya akan berkembang setelah ada bentuk kejahatan baru. Jadi hukum di Indonesia
tidak ada kecenderungan yang mengarah pada usaha preventif atau pencegahan,
melainkan usaha penyelesaiannya setelah terjadi suatu akibat hukum. Walaupun
begitu, proses perkembangan hukum tersebut masih harus mengikuti proses yang
sangat panjang, dan dapat dikatakan, setelah negara menderita kerugian yang cukup
besar, hukum tersebut disahkan. Kebijakan hukum nasional yang kurang bisa
mengikuti perkembagan kemajuan teknologi tersebut, justru akan mendorong
timbulnya kejahatan-kejahatan baru dalam masyarakat yang belum dapat dijerat
dengan menggunakan hukum yang lama. Padahal negara sudah terancam dengan
kerugian yang sangat besar, namun tidak ada tindakan yang cukup cepat dari para
pembuat hukum di Indonesia
untuk mengatasi masalah tersebut.
Dari beberapa penjelasan mengenai cyber
crime tersebut, yang menjadikan ketertarikan bagi penulis untuk mengangkat
tema tentang “TINDAK PIDANA KEJAHATAN
DUNIA MAYA (Kajian Terhadap UU Nomor 11 Tahun 2008 dan Fiqih Jinayah)”.
1.2.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan dari latar belakang diuraikan tersebut di
atas, maka penulis mempunyai beberapa rumusan masalah yang dapat dijadikan
sebagai bahan pembahasan dalam penulisan skripsi ini, yaitu:
1.
Bagaimana pembahasan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008
Tentang kejahatan dunia maya?
2.
Bagaimana kendala yang dihadapi oleh Perangkat hukum di
Indonesia
untuk menangani para pelaku Kejahatan dunia Maya terkait dengan masalah
pembuktian?
3.
Bagaimana pembahasan Hukum Islam tentang Kejahatan
dunia maya?
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun Tujuan Penelitian ini adalah, yaitu
:
1. Untuk mengetahui pembahasan Undang-Undang
Nomor 11 Tahun 2008 Tentang kejahatan dunia maya.
2. Untuk mengetahui kendala yang dihadapi oleh
Perangkat hukum di Indonesia
untuk menangani para pelaku Kejahatan dunia Maya terkait dengan pembuktian.
3.
Untuk mengetahui pembahasan Hukum Islam tentang Kejahatan
dunia maya.
1.4. Penjelasan Istilah
Untuk
menghindari terjadinya kesalahpahaman maka perlu dijelaskan istilah yang
terdapat dalam judul skripsi ini. Adapun istilah tersebut yaitu :
1. Cyber
Crime
2. Informasi Elektronik dan
Transaksi Elektronik
3. Perspektif Fiqih
Jinayah
Ad 1. Cyber Crime
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata Cyber Crime diartikan merupakan bentuk kejahatan dalam dunia maya yang dilakukan
dengan menggunakan fasilitas jaringan internet dan komputer, yang menimbulkan
berbagai macam kejahatan, antara lain yaitu terjadinya kasus.[10]
Ad. 2. Informasi Elektronik dan Transaksi Elektronik
Informasi elektronik
adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas
pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, electronik data interchange
(EDI), surat elektronik (elektronik mail), telegram, teleks, telecopy atau
sejenisnya, huruf, tanda, angka, kode akses, simbol, atau perforasi yang telah
diolah yang memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu
memahaminya.
Transaksi Elektronik
adalah perbuatan hukum yang dilakukan dengan menggunakan Komputer, jaringan
Komputer, dan/ atau media elektronik lainnya.
Ad.
3. Perspektif Fiqih Jinayah
Perspektif
Fiqih Jinayah adalah studi analisis menurut aturan hukum Islam yang tergali
dari Al-Qur’an dan as-Sunnah atau hasil dari ijtihad para Ulama yang berkaitan
dengan jarimah ta’zir. Yang dimaksud dengan jarimah ta’zir yaitu
pelanggaran yang tidak disebutkan jenis dan sanksi kejahatannya oleh Al-Qur’an
dan As-Sunnah, sehingga jenis dan saksinya ditentukan oleh kebijakan Waliyyul
Amri atau Qadli.
1.5. Kajian Pustaka
Kejahatan
Dunia Mayantara (cyber crime) adalah representasi dari kejahatan
internasional yang menggunakan hitech karena ciri dan kejahatan yang
paling menonjol adalah boderless atau tidak mengenal batas negara. Teknologi
relatif tinggi artinya hanya orang-orang tertentu saja yang sanggup melakukan
kejahatan ini serta serta open resources
mediator atau dapat menjadi media untuk berbagai kejahatan antara lain
kejahatan dibidang perbankan, pasar modal, seks, pembajakan hak-hak intelektual
serta terorisme dan yang lebih tepat lagi termasuk
transnational crime.
Pada
dasarnya cyber crime adalah penyalahgunaan komputer dengan cara hacking
komputer ataupun dengan cara-cara lainnya merupakan kejahatan yang perlu
ditangani dengan serius, dan dalam mengantisipasi hal ini perlu rencana
persiapan yang baik sebelumnya. Karena kejahatan ini potensial menimbulkan
kerugian pada beberapa bidang: politik, ekonomi, sosial budaya dan lebih memprihatinkan
dibandingkan dengan ledakan bom atau kejahatan yang berintensitas tinggi
lainnya bahkan dimasa akan datang dapat mengganggu
Perekonomian
nasional melalui jaringan infrastruktur yang berbasis teknologi elektronik
(perbankan, telekomunikasi satelit, jaringan listrik, dan jaringan lalu lintas
penerbangan dsb). secara serius mengantisipasi cyber crime dan
permasalahan lainnya yang berhubungan dengan kejahatan internasional yang
menggunakan hitech karena kejahatan ini sangat intens, jangkauannya sangat
luas serta pelaku rata-rata mempunyai intelektualitas yang tinggi dan mempunyai
komunitas tersendiri, serta memerlukan penanganan secara komprehensif. Walaupun
permasalahan Kejahatan Dunia Mayantara (cyber crime) sudah dibahas oleh
penulis lain, yakni:
1.
“Cyber Crime dalam
Prespektif Hukum Pidana Indonesia dan Hukum Pidana Islam” oleh
Abidin pada tahun 2005. di dalam skripsinya dijelaskan mengenai cybercrime merupakan
suatu pengaksesan yang dilakukan secara ilegal yang mengakibatkan
kerugian pada terhadap pengguna jaringan internet. Dengan berdasarkan
sanksi hukuman KUHP Pasal 167 dan 406 (1) KUHP.
2. “Hacking Komputer dalam Perspektif Hukum Pidana dan Hukum Islam” (Studi Analisis Tentang Kejahatan Komputer)
oleh Khuzaimatus Sholikha pada tahun 2005. Di dalam skripsi yang kedua ini
lebih memaparkan pada “Hacking Komputer”
yang merupakan suatu pengaksesan terhadap sistem komputer tanpa izin dari
pemiliknya, sehingga dapat mengakibatkan kerugian pada pengguna internet maupun
pemilik situs komputer. Dalam hukum pidana hacking komputer
merupakan salah satu bentuk kejahatan komputer. Bagi pelaku kejahatan komputer
tersebut pemberian sangsi hukuman sesuai dengan unsur-unsur yang berkaitan
dengan Pasal 167 (1) KUHP dan ketentuan pasal
3. 22 jo 40 UU No.36 tahun 1999,
dengan ketentuan pidana yang diatur dalam pasal 50 jo 56 UU No. 36 tahun
1999 tentang Telekomunikasi. Dari kajian kedua skripsi diatas
menunjukkan bahwa antara cyber crime atau hacking komputer merupakan suatu kejahatan yang hanya melanggar
batas wilayah suatu negara dan pengaksesan terhadap sistem komputer
tanpa izin dari pemiliknya. Jika kita telaah kembali pada hakikatnya
dampak dari cyber crime bukan hanya pada pengaksesan sebuah komputer
atau melanggar batas wilayah suatu negara melainkan berbagai macam kejahatan
antara lain: pencurian (carding), pengrusakan atau penghancuran barang
yang berkaitan dengan komputer, pornografi yang dapat ditonton secara
bebas, penipuan, penggelapan, pencemaran nama baik, penghinaan dan lain
sebagainya.
Dari segala macam bentuk kejahatan
tersebut maka dalam pembahasan. skripsi ini yaitu lebih mengarah pada
kejahatan yang berkaitan dengan pelanggaran kesusilaan (pornografi) yang
dapat mengakibatkan pencemaran nama baik dan terjadinya kasus pencurian.
Yang berkaitan dengan Undang-Undang
ITE Nomor 11 tahun 2008, dan hal inilah yang membedakan antara kedua
skripsi tersebut.
1.6. Metode Penelitian
Sesuai
dengan tujuan yang telah dirumuskan, maka upaya pengumpulan data yang dilakukan
untuk menjawab masalah dalam penelitian ini secara keseluruhan bersifat Library
Reseach (penelitian kepustakaan), yaitu dengan cara mengambil data-data
penelitian yang berkaitan dengan kejahatan dunia maya dan ketentuan-ketentuan
pidananya.
Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan studi pustaka yaitu dengan
menelaah kitab-kitab atau buku-buku yang berkaitan dengan topik pembahasan.
Bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder dalam penyusunan dan penulisan
skripsi ini dilakukan dengan cara studi kepustakaan, Al-Qur’an, Al-hadist, dan
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang ada hubungannya dengan topik
pembahasan skripsi. Bahan-bahan hukum baik bahan hukum primer bahkan bahan
hukum sekunder yang telah terkumpul kemudian dianalisa dengan menggunakan
metode deduktif yaitu dengan menarik kesimpulan dari yang umum ke yang khusus.
Untuk terjemahan ayat-ayat Al-Qur’an dalam penulisan skripsi ini, penulis
mengambil dari Al-Qur’an dan Terjemahannya yang diterbitkan oleh Yayasan
Penterjemah Penafsiran Al-Qur’an Kementerian Agama Republik Indonesia .
Akhirnya dalam penulisan dan penyusunan karya ilmiah ini penulis
berpedoman pada buku pedoman karya tulis ilmiah dan pendoman transliterisasi
Arab latin, yang diterbitkan oleh IAIN Ar-Raniry Tahun 2010.
1.7. Sistematika Pembahasan
Berdasarkan
permasalahan dan beberapa hal yang telah diuraikan sebelumnya maka susunan
skripsi ini dibagi dalam 4 (empat) bab yaitu:
Bab Satu, Pendahuluan yang berisi Latar belakang masalah, Rumusan
masalah, Tujuan penelitian, Penjelasan Istilah, Kajian pustaka Metode
penelitian, dan Sistematika pembahasan.
Bab Dua, mengenai landasan
teoritis yang memuat tentang Kejahatan dan Sanksi
Hukuman dalam Fiqih Jinayah. Di sini menjelaskan tentang Pengertian Tindak
Pidana, Jinayah dan Jarimah; Unsur-Unsur Jinayah dan Jarimah, Teori Pembuktian
Fiqh Jinayah. Klasifikasi Jarimah; Jarimah Hudud, Jarimah Qisas, dan Jarimah Ta’zir, serta Fase-Fase Pelaksanaan
Jarimah. Yang sekaligus merupakan kerangka untuk mendasari tulisan skripsi ini.
Bab Tiga, mengenai tentang Eksistensi dan Antisipasi Kejahatan Maya (cyber crime). Di sini menjelaskan
tentang Pengertian Eksistensi Kejahatan Dunia Maya; Pengertian Kejahatan dan
Kejahatan Dunia Maya, Faktor-Faktor Laju Pertumbuhan Dunia Maya. Upaya
penanggulangan kejahatan dunia maya di Indonesia ; Menjerat Pelaku,
Alat-Alat Bukti. Upaya penanggulangan kejahatan dunia maya Menurut
Undang-Undang ITE Dalam Perspektif Fiqih Jinayah dan Analisis penulis.
Bab Empat,
merupakan bab penutup yang memuat semua kesimpulan dan saran-saran dari
permasalahan-permasalahan yang penulis bahas.
mau skripsi lengkap bisa hubungi ke no hp 085373322117
[1]Sentosa
Sembiring, Himpunan Peraturan
Perundang-Undangan Republik Indonesia
Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, (Bandung : Nuasa Aulia, 2009), hlm. 3.
[2]Soekanto,
Soerdjono, Pokok-Pokok Sosiologi Hukum, (Jakarta : PT. Raja Grafindo
Persada, 2007), hlm. 87-88.
[3]Syamsul
Muarif, Menunggu Lahirnya Cyber Law, http//www.cybernews.cbn.net.id
26 Desember 2004.
[4]Raharjo,
Sadjipto, Hukum dan Masyarakat, (Bandung : Angkasa, 2000),
hlm. 96.
[5]Mansur,
Didik M. Arief, Cyber Law (Aspek Hukum Teknologi Informasi), (Bandung : PT. Refika
Aditama, 2005), hlm. 7.
[6]Hanafi,
Ahmad, Asas-Asas Hukum Pidana Islam,
(Jakarta : PT.
Bulan Bintang, 1993), hlm. 12.
[7]Ahmad
M. Ramli, Menuju Kepastian Hukum Di
bidang Informasi dan Transaksi Elektronik RI , (Jakarta :
Peger Gunung, 2005), hlm. 1.
[8]Sutanto,
Hermawan Sulistyo, dan Tjuk Sugiarto
(ED), Cyber Crime Motif dan Pemidanaan, (Jakarta : Pensil, 2005), hlm. 13.
[9]Sutarman,
Cyber Crime Modus Operandi dan
Penanggulangannya, (Yogyakarta : Laksbang
Pressindo, 2007), hlm. 4.
[10]Sulchan
Yasyin, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Surabaya:
Amanah, 1995), hlm. 214.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar